Menemukan Hening di Balik Lodji: Alasan Gen Z Surabaya "Blusukan" di Gang Peneleh

Penulis: Riska Oktafiana

Editor: Melina Kristina S


Potret Suasana Kafe Lodji Besar

Surabaya – Di balik riuhnya pusat kota Surabaya, sebuah gang di kawasan bersejarah Desa Peneleh menyimpan daya tarik yang tak biasa bagi generasi Z. Sebuah bangunan tua yang kini berfungsi sebagai kafe bernama Lodji Besar bertempat di Jl. Makam Peneleh No.46 menjadi pelarian favorit bagi mereka yang jenuh dengan hiruk-pikuk kafe modern.

Nama "Lodji" sendiri dipilih karena maknanya sebagai rumah besar atau tempat berkumpul. Hal ini bukan sekadar nama, karena tempat ini memang menjadi titik temu komunitas penggiat sejarah seperti Begandring Soerabaia.

Berbeda dengan kafe pada umumnya yang berebut lahan di pinggir jalan protokol, Lodji Besar justru terletak di dalam permukiman penduduk Desa Peneleh. Lokasinya yang "nyempil" di antara rumah-rumah warga memberikan kesan istimewa bagi pengunjung.

Meskipun berada di gang yang tergolong sempit bagi kendaraan roda empat, akses menuju kafe ini tidaklah sulit. Navigasi digital sangat membantu pengunjung menemukan titik lokasi tanpa kendala kesasar.

Berdasarkan penuturan Ibu Lisa, salah satu karyawan yang telah mendampingi pemilik tempat ini sejak lama, gedung ini memiliki sejarah kepemilikan yang berlapis. Awalnya, ini adalah rumah tinggal warga berkebangsaan Belanda. Bangunan tersebut kemudian dibeli oleh seorang warga Tionghoa yang anak-anaknya kini menetap di Amerika Serikat.

"Dulu sempat mau dibeli sama perusahaan minimarket, tapi sama orangnya tidak boleh karena takut merubah bangunan. Biar ada ikonnya tersendiri akhirnya dibeli sama bos saya" ujar Ibu Lisa saat ditemui di lokasi.

Sebelum menjadi kafe sekitar lima tahun lalu, tempat ini sempat menjadi gerai brand kaos lokal Surabaya. Namun, hantaman pandemi Covid-19 memaksa tempat ini berinovasi hingga akhirnya bertransformasi menjadi kafe.



Suasana memasuki Lodji Besar, pengunjung langsung disambut oleh visual bangunan kolonial yang masih asli. Langit-langit yang tinggi, jendela besar khas arsitektur Belanda, alunan musik jaman dahulu, serta lantai tegel kuno yang menciptakan atmosfer dingin dan tenang meskipun tanpa pendingin ruangan yang berlebihan.

Di sudut-sudut ruangan, terpajang radio, lemari, lampu kuno, hingga dekorasi poster iklan jadul yang memperkuat kesan nostalgia, dan struktur utama bangunan tetap dibiarkan autentik. "Listriknya saja namanya masih nama pemilik yang lama, tidak dirubah," tambah Ibu Lisa, menunjukkan betapa kuatnya upaya mempertahankan jati diri bangunan tersebut.

Fenomena menarik terlihat pada sore hingga malam hari. Generasi Z rela “blusukan” bukan hanya sekedar untuk nongkrong dan berfoto. Meja-meja kayu tua di kafe ini justru banyak diisi oleh mahasiswa yang sibuk dengan laptop mereka.

Salah satunya adalah Sherlin Andrean, seorang mahasiswa UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya berasal dari Kenjeran. Bagi Sherlin Andrean estetika "jadul" ini memberikan ketenangan yang tidak didapatkan di kafe-kafe pusat kota.

"Karena kebetulan di sini kan agak sepi ya, jadi untuk internet kan juga lebih lancar, jadi aku butuh tenang sih kak untuk nugas," ujar Sherlin.

Ia juga menambahkan bahwa meski berada di dalam pemukiman padat, akses menuju lokasi sangat mudah, sehingga tidak menyulitkan anak muda yang ingin berkunjung untuk sekadar rapat atau berkumpul.

Kehadiran kafe ini tidak hanya menjadi ruang bagi pecinta sejarah dan mahasiswa, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi warga sekitar Peneleh. Ibu Lisa menjelaskan bahwa seluruh pengelolaan parkir diserahkan sepenuhnya kepada warga sekitar tanpa dipungut biaya oleh pemilik kafe.

Bahkan, saat ada kunjungan wisatawan asing, warga lokal sering dilibatkan sebagai pemandu wisata. Sinergi ini membuat keberadaan kafe diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat setempat karena menciptakan lapangan kerja baru di tengah perkampungan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

War Takjil Ramadan di Graha YKP Surabaya, Peluang Usaha bagi Pelajar dan Mahasiswa

Aksara di Tepi Laut: Perjuangan Anak Muda Sukolilo Melawan Stigma

Surga Kuliner di Karmen, Mahasiswa Ramai Berburu Makanan