Aksara di Tepi Laut: Perjuangan Anak Muda Sukolilo Melawan Stigma
Penulis : Sofiatih Ainova
Editor
: Selena fayya Nafira
Kedai Pojok Literasi, Pesisir Sukolilo,
Surabaya.
SURABAYA, Berita hari ini Surabaya - Di balik kemegahan Jembatan Suroboyo, sekelompok anak muda pesisir Sukolilo menggagas gerakan literasi bagi anak-anak nelayan melalui komunitas Pojok Literasi. Gerakan ini lahir dari kepedulian mereka terhadap rendahnya minat baca di lingkungan sekitar.
Komunitas
tersebut bermula dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah
Surabaya yang sebelumnya membangun pos literasi di kawasan tersebut. Namun,
setelah program KKN berakhir, kegiatan tidak lagi berlanjut dan pos yang ada
sempat terbengkalai.
Seiring
waktu, pos tersebut digunakan anak-anak sekitar sebagai tempat bermain. Dari
situlah para pemuda mulai memanfaatkannya sebagai ruang diskusi isu sosial
sekaligus mengajak anak-anak untuk belajar bersama.
Salah
satu penggerak komunitas, Sella Selvia Ramadhan (24) mengungkapkan bahwa mereka
terkejut dengan kondisi literasi anak-anak di lingkungan pesisir.
"Awalnya
kami hanya mengajak bermain sambil belajar. Tapi ternyata masih banyak anak
yang belum bisa membaca di lingkungan kami, bahkan yang sudah SMP pun
ada," ujarnya, Minggu (5/4/2026)
Temuan
tersebut mendorong mereka untuk menghidupkan kembali program pojok literasi
secara mandiri. Para pemuda kemudian menyusun kegiatan belajar dengan membagi
anak-anak berdasarkan kemampuan masing-masing.
Materi
yang diberikan meliputi pengenalan huruf, membaca, menulis, hingga berhitung.
Selain itu, kegiatan belajar juga diselingi dengan aktivitas menggambar, seni,
dan kreativitas tangan agar anak-anak tidak merasa bosan dan pendekatan belajar
yang santai menjadi kunci agar anak-anak nyaman.
Saat
ini, komunitas tersebut telah memiliki hampir 50 anak didik yang aktif
mengikuti kegiatan belajar. Kegiatan rutin dilaksanakan setiap Jumat pukul
10.00 WIB di TPQ setempat dan Minggu di Kedai Pojok Literasi, menyesuaikan
dengan lokasi tempat tinggal anak-anak.
Untuk
mendukung keberlangsungan program, para pemuda ini mendirikan Kedai Pojok
Literasi di sekitar kawasan samping Jembatan Suroboyo. Kedai tersebut menjual makanan dan minuman
yang dikelola secara mandiri.
Koordinator
komunitas, Ummu Sajidah (22), mengaku sempat khawatir keberadaan kedai akan
mengganggu aktivitas nelayan karena lokasinya dekat dengan pangkalan perahu.
"Awalnya
kami takut mengganggu, tapi ternyata masyarakat justru mendukung. Mereka sering
membeli dagangan kami supaya kegiatan ini bisa terus berjalan," jelasnya.
Selain
dari hasil penjualan kedai, pendanaan juga diperoleh melalui donasi terbuka
serta pengajuan proposal kepada pihak tertentu.
Sebagai
bagian dari metode pembelajaran, komunitas ini juga sesekali mengajak anak-anak
belajar di luar lingkungan pesisir, seperti berkunjung ke kebun binatang.
Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pengalaman baru sekaligus meningkatkan
semangat belajar.
Lebih
dari sekadar meningkatkan kemampuan baca-tulis, komunitas ini membawa misi
untuk mengubah stigma terhadap kawasan pesisir yang selama ini kerap dianggap
terpinggirkan dan kurang mendapat akses pendidikan.
"Kami
ingin membuktikan bahwa tempat kami bukan seperti yang orang pikirkan.
Anak-anak di sini punya potensi, hanya butuh kesempatan," tutur Ummu
Sajidah .
Melalui
langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, anak-anak muda pesisir
Sukolilo kini tidak hanya menghadirkan ruang belajar, tetapi juga membuka
harapan baru bagi generasi di lingkungannya bahwa perubahan dapat dimulai dari
kepedulian dan aksi nyata.
Komentar
Posting Komentar