Kopi Mama Ury: Menemukan Hangatnya Sudut Rumah di Tengah Hiruk Pikuk Surabaya
Oleh: Rigolda Christine Olvie
Editor: Riska Oktafiana
Sudut asri Kopi Mama Ury yang memadukan
perabotan daur ulang.SURABAYA – Di
balik deretan perumahan yang tenang di kawasan Sukolilo, tepatnya di Jl. Manyar
Indah II No. 01, terdapat sebuah tempat yang menawarkan lebih dari sekadar
kopi. Kopi Mama Ury, sebuah kafe dengan konsep vintage yang kental,
menjadi ruang bagi mereka yang jenuh dengan suasana perkotaan.
Cerita
di balik berdirinya kedai ini sebenarnya sangat personal. Sephia, salah satu pegawai
yang menjaga kedai, menceritakan bahwa tempat ini awalnya hanyalah taman dari
sebuah rumah. Ide untuk mengubah area tersebut menjadi kedai datang dari anak
bungsu Mama Ury dengan alasan yang menyentuh hati.
"Anak terakhir Mama punya ide buat taman ini dijadiin kafe saja biar bisa menemani Mama di rumah. Soalnya anak-anak Mama yang lain sudah pada menikah dan tinggal masing-masing" ujar Sephia saat berbincang santai. Kehadiran kedai ini pun sukses mengubah suasana rumah yang tadinya sepi menjadi lebih hidup dan hangat.
![]() |
|
Kopi
Mama Ury sendiri sebenarnya sudah mulai beroperasi sejak sebelum pandemi
melanda. Meski sempat terdampak dan harus tutup selama dua sampai tiga bulan di
awal masa COVID-19, kedai ini perlahan bangkit kembali. Alih-alih menggunakan
furnitur mewah, kedai ini justru tampil percaya diri dengan memanfaatkan
barang-barang daur ulang. Kursi dan perabotan lama yang tidak terpakai dipoles
sedemikian rupa hingga menjadi dekorasi unik yang menciptakan kesan nostalgia.
Konsep
"alami" inilah yang membuat salah satu pengunjung bernama Yohana menyukai kedai ini. Sebagai seorang mahasiswi yang sering mengerjakan tugas di sana, ia
merasa Kopi Mama Ury memberikan ketenangan yang berbeda.
"Konsepnya
unik banget, beda sama kafe zaman sekarang yang lebih ke arah bangunan modern apalagi di Surabaya ini. Di sini tuh terasa adem dan unik soalnya tanaman hias dipadukan dengan perabotan lama" ujar Yohana. Baginya, kedai ini adalah "ruang
aman" untuk fokus karena suasananya yang damai dan jauh dari kebisingan
jalan raya.
Namun,
mengelola kedai di tengah pemukiman warga tentu bukan tanpa tantangan. Dijuluki
sebagai hidden gem seringkali membuat pengunjung baru kesulitan mencari
lokasinya. Selain itu, pihak pengelola kedai juga harus ekstra peka dalam
menjaga toleransi dengan lingkungan sekitar.
"Karena
lokasinya di dalam perumahan, kita harus jaga banget biar tidak mengganggu
tetangga. Kadang ada komplain kalau musiknya terlalu malam atau terlalu
kencang" tambah Sephia. Faktor cuaca juga menjadi perhatian utama,
mengingat konsep kedai yang semi-terbuka sangat bergantung pada kondisi alam.
Pada
akhirnya, Kopi Mama Ury bukan hanya tempat untuk menikmati kopi. Kedai ini
adalah bukti bagaimana sebuah taman rumah bisa menjadi ruang yang merangkul
siapa saja, memberikan kenyamanan layaknya pulang ke rumah sendiri di tengah
penatnya kota Surabaya.

Komentar
Posting Komentar